Setiap tanggal 17 Ramadhan, umat Islam memperingati Nuzulul Qur’an—peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad ﷺ. Pada tahun 1447 Hijriah (2026), momen ini kembali hadir di tengah ruang-ruang pendidikan: sekolah, madrasah, dan kelas-kelas tempat proses belajar berlangsung setiap hari.
Di lingkungan sekolah, Nuzulul Qur’an tidak cukup dimaknai sebagai agenda peringatan tahunan. Ia adalah kesempatan penting untuk mengajak peserta didik memahami bahwa Al-Qur’an hadir sebagai sumber nilai, arah belajar, dan pembentuk karakter, bukan sekadar teks yang dibaca dalam seremoni.
17 Ramadhan: Ketika Wahyu Bertemu Dunia Pendidikan
Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, bulan yang mengajarkan pengendalian diri, kejujuran, dan kesungguhan. Nilai-nilai ini sangat dekat dengan dunia pendidikan. Sekolah sejatinya adalah tempat membentuk manusia agar mampu berpikir, bersikap, dan bertanggung jawab.
Karena itu, peringatan Nuzulul Qur’an di sekolah seharusnya menjadi ruang refleksi bersama: sejauh mana proses belajar telah menumbuhkan nilai kejujuran, kedisiplinan, empati, dan semangat mencari kebenaran sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an.
Nuzulul Qur’an sebagai Tema Pendidikan Karakter
Tema Nuzulul Qur’an untuk sekolah tidak harus rumit. Ia bisa dimaknai sebagai ajakan untuk kembali pada esensi belajar: membaca, memahami, dan mengamalkan nilai. Al-Qur’an sendiri dimulai dengan perintah membaca—sebuah pesan kuat tentang pentingnya literasi, ilmu, dan kesadaran.
Dalam konteks ini, peserta didik diajak melihat bahwa belajar bukan sekadar mengejar nilai akademik, tetapi proses membentuk diri. Nilai kesabaran, tanggung jawab, dan pengendalian diri yang dilatih melalui makna puasa sebagai latihan jiwa menemukan relevansinya dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Peran Guru dan Sekolah dalam Memaknai Nuzulul Qur’an
Guru dan sekolah memiliki peran penting dalam menghadirkan makna Nuzulul Qur’an secara kontekstual. Bukan dengan menambah hafalan, tetapi dengan memberi teladan: cara berbicara yang jujur, sikap adil dalam menilai, serta kesungguhan dalam mendampingi peserta didik.
Keteladanan inilah yang menjadikan peringatan Nuzulul Qur’an bermakna. Sekolah tidak hanya menyelenggarakan acara, tetapi menghadirkan nilai Al-Qur’an dalam budaya belajar sehari-hari.
Kesimpulan
Nuzulul Qur’an 17 Ramadhan 1447 Hijriah adalah momentum penting bagi dunia pendidikan untuk kembali menegaskan peran sekolah sebagai ruang pembentukan karakter. Al-Qur’an tidak hanya dikenang sebagai wahyu yang turun di masa lalu, tetapi dihadirkan sebagai pedoman nilai dalam proses belajar hari ini.
Ketika sekolah mampu menjadikan Nuzulul Qur’an sebagai ruang belajar bersama, maka pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.

Post a Comment for "17 Ramadhan 1447 Hijriah: Nuzulul Qur’an sebagai Momentum Belajar di Sekolah"