Shalat Tarawih: Praktik Ibadah Malam yang Menguatkan Puasa Ramadhan

Shalat tarawih adalah salah satu praktik ibadah yang menghidupkan malam-malam Ramadhan. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan hadir sebagai kelanjutan dari puasa yang dijalani sejak siang hari, menguatkan niat, menata doa, dan melatih ketekunan beribadah.

Dalam tradisi Islam, tarawih bukan sekadar shalat sunnah malam, tetapi ruang spiritual untuk menjaga kesinambungan ibadah puasa agar tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga semata.

Jamaah melaksanakan shalat tarawih sebagai ibadah malam di bulan Ramadhan

Pengertian Shalat Tarawih dalam Islam

Shalat tarawih adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari di bulan Ramadhan setelah shalat Isya. Kata tarawih berasal dari kata tarwihah yang berarti istirahat, karena shalat ini dilakukan dengan jeda di antara rakaat-rakaatnya.

Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih merupakan bagian dari ibadah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) karena Rasulullah ﷺ dan para sahabat senantiasa menghidupkannya di bulan Ramadhan.

Shalat Tarawih dan Hubungannya dengan Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan tidak hanya melatih kesabaran di siang hari, tetapi juga mengarahkan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah di malam hari. Dalam konteks inilah shalat tarawih menjadi pelengkap ibadah puasa.

Sebagaimana niat dalam puasa menentukan keabsahan ibadah, tarawih membantu menjaga kesungguhan niat tersebut agar tetap hidup sepanjang bulan Ramadhan.

Niat Shalat Tarawih dan Kedudukannya

Niat shalat tarawih dilakukan di dalam hati sebelum memulai shalat. Tidak disyaratkan melafalkan niat secara lisan, namun memahami tujuan dan kesadaran ibadah menjadi inti utama.

Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa doa dan niat dalam ibadah merupakan ruh yang menghidupkan amal, bukan sekadar bacaan formal.

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Dalam praktiknya, shalat tarawih dikerjakan dengan jumlah rakaat yang beragam. Ada yang melaksanakan 8 rakaat dan ada pula yang 20 rakaat, semuanya memiliki dasar dalam praktik para sahabat dan ulama.

Perbedaan jumlah rakaat ini seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan ruang toleransi dalam menjalankan ibadah sunnah.

Waktu Pelaksanaan Shalat Tarawih

Shalat tarawih dilaksanakan setelah shalat Isya hingga menjelang waktu Subuh. Banyak umat Islam memilih mengerjakannya secara berjamaah di masjid, namun boleh juga dikerjakan sendiri di rumah.

Dalam rangkaian ibadah harian Ramadhan, tarawih sering disandingkan dengan sahur dan berbuka puasa sebagai pola ibadah yang saling melengkapi antara siang dan malam.

Keutamaan Shalat Tarawih

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa saja yang melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Keutamaan ini menegaskan bahwa tarawih bukan sekadar rutinitas, tetapi sarana penyucian diri yang memperkuat makna puasa itu sendiri.

Shalat Tarawih sebagai Latihan Konsistensi Ibadah

Melaksanakan shalat tarawih secara rutin melatih disiplin, kesabaran, dan keikhlasan. Ia menjadi cermin apakah puasa Ramadhan benar-benar membentuk kesadaran beribadah atau hanya menjadi kebiasaan tahunan.

Sebagaimana tuntunan doa dan bacaan dalam puasa, shalat tarawih mengajarkan bahwa ibadah adalah proses berkelanjutan, bukan aktivitas sesaat.

Penutup

Shalat tarawih adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah Ramadhan. Ia mempertemukan niat, doa, dan praktik ibadah dalam satu rangkaian yang utuh. Dengan memahami maknanya, tarawih tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai ruang istirahat batin yang menenangkan.

Catatan Editorial PelajaranCG

PelajaranCG memandang shalat tarawih bukan sekadar ibadah tambahan di malam Ramadhan, tetapi sebagai penguat kesadaran puasa. Ketika niat, doa, dan praktik ibadah dipahami sebagai satu kesatuan, Ramadhan tidak hanya dijalani, tetapi benar-benar dihayati.

Post a Comment for "Shalat Tarawih: Praktik Ibadah Malam yang Menguatkan Puasa Ramadhan"