Tentang Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar: Relasi Kebijakan, Praktik, dan Profesionalisme Guru

Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar sering kali dibicarakan sebagai dua hal yang terpisah: yang satu dianggap sebagai kebijakan kurikulum, sementara yang lain dipahami sebagai aplikasi pendukung. Padahal, keduanya lahir dari konteks yang sama dan saling berkaitan erat dalam praktik pembelajaran di sekolah.

Untuk memahami hubungan keduanya secara utuh, diperlukan pembacaan yang tidak berhenti pada fungsi teknis, tetapi juga menyentuh dimensi pedagogis dan profesionalisme guru. Tulisan ini mencoba membaca Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar sebagai satu ekosistem pembelajaran, bukan sekadar produk kebijakan.

Guru menggunakan Platform Merdeka Mengajar dalam penerapan Kurikulum Merdeka di kelas

Kurikulum Merdeka sebagai Kerangka Pembelajaran

Kurikulum Merdeka dirancang sebagai respons atas kebutuhan pembelajaran yang lebih relevan, kontekstual, dan berpusat pada murid. Ia tidak dimaksudkan sebagai sekadar pengganti kurikulum sebelumnya, melainkan sebagai pergeseran cara pandang terhadap proses belajar-mengajar.

Dalam praktiknya, Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi satuan pendidikan dan guru untuk merancang pembelajaran yang lebih fleksibel, dengan fokus pada kompetensi esensial dan kedalaman pemahaman. Pendekatan ini menuntut guru tidak hanya mengikuti perangkat ajar, tetapi juga melakukan refleksi terhadap kebutuhan nyata murid di kelas.

Pembahasan lebih rinci mengenai bagaimana Kurikulum Merdeka diterapkan dari tahap perencanaan hingga praktik pembelajaran dapat dibaca dalam tulisan Penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah: Dari Perencanaan hingga Praktik Pembelajaran.

Makna Kurikulum Merdeka dalam Perspektif Profesional Guru

Kurikulum Merdeka sering disederhanakan sebagai kurikulum yang “memberi kebebasan”. Namun bagi guru, kebebasan tersebut bukanlah ketiadaan arah, melainkan ruang untuk mengambil keputusan pedagogis secara sadar dan bertanggung jawab.

Dalam pengertian ini, Kurikulum Merdeka menempatkan guru sebagai aktor profesional, bukan sekadar pelaksana teknis kebijakan. Guru dituntut memahami tujuan pembelajaran, menyesuaikan strategi dengan konteks murid, serta melakukan asesmen sebagai bagian dari proses belajar.

Pembacaan yang lebih mendalam mengenai definisi Kurikulum Merdeka dari sudut pandang kebijakan dan kesadaran profesional guru dapat ditemukan dalam artikel Definisi Kurikulum Merdeka: Antara Kebijakan Negara dan Kesadaran Profesional Guru.

Platform Merdeka Mengajar: Alat, Bukan Tujuan

Seiring dengan implementasi Kurikulum Merdeka, Kementerian Pendidikan menghadirkan Platform Merdeka Mengajar (PMM) sebagai sarana pendukung bagi guru. Platform ini menyediakan perangkat ajar, referensi pembelajaran, serta ruang pengembangan kompetensi guru.

Namun penting dipahami bahwa Platform Merdeka Mengajar bukanlah inti dari Kurikulum Merdeka. Ia adalah alat bantu, bukan tujuan pembelajaran itu sendiri. Keberadaan platform ini dimaksudkan untuk mempermudah guru dalam merancang dan merefleksikan pembelajaran, bukan untuk menggantikan peran profesional guru.

Penjelasan khusus mengenai fungsi, fitur, dan posisi Platform Merdeka Mengajar bagi guru dapat dibaca pada artikel Apa Itu Platform Merdeka Mengajar? Penjelasan untuk Guru.

Relasi Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar

Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar memiliki relasi yang bersifat saling mendukung. Kurikulum menyediakan arah dan prinsip pembelajaran, sementara platform menyediakan sumber dan ruang belajar bagi guru.

Dalam praktiknya, platform ini dapat membantu guru memahami capaian pembelajaran, mengakses contoh perangkat ajar, serta mengikuti pelatihan mandiri. Namun, kualitas pembelajaran tetap ditentukan oleh bagaimana guru menggunakan sumber tersebut secara kritis dan kontekstual.

Ketika platform diperlakukan sebagai kewajiban administratif semata, esensi Kurikulum Merdeka justru berisiko tereduksi. Sebaliknya, ketika digunakan sebagai ruang belajar dan refleksi, platform ini dapat memperkuat praktik pembelajaran di kelas.

Tantangan Implementasi di Lapangan

Tidak dapat dipungkiri bahwa implementasi Kurikulum Merdeka dan penggunaan Platform Merdeka Mengajar menghadirkan tantangan. Kesiapan guru, budaya sekolah, serta beban administratif masih menjadi faktor yang memengaruhi kualitas penerapan.

Di sinilah pentingnya membaca kebijakan secara utuh dan proporsional. Kurikulum Merdeka bukan solusi instan, melainkan proses pembelajaran bersama yang membutuhkan waktu, refleksi, dan dukungan berkelanjutan.

Membaca Kurikulum Merdeka dari Pengalaman Guru

Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar pada akhirnya tidak hidup di dokumen kebijakan, tidak pula sepenuhnya di layar platform digital. Keduanya menemukan makna sesungguhnya di ruang kelas, dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil guru setiap hari.

Di titik inilah pertanyaan penting muncul, bukan untuk dijawab secara seragam, melainkan untuk direnungkan secara jujur oleh setiap pendidik:

  • Apakah Kurikulum Merdeka sudah membantu saya memahami murid lebih baik, atau justru menambah beban administratif?
  • Apakah Platform Merdeka Mengajar saya gunakan sebagai ruang belajar, atau sekadar kewajiban yang harus dipenuhi?
  • Di bagian mana saya merasa lebih merdeka sebagai guru, dan di bagian mana saya masih merasa terikat?

Tidak ada jawaban benar atau salah. Justru dari keberanian merefleksikan pertanyaan-pertanyaan inilah kesadaran profesional guru tumbuh. Kurikulum Merdeka tidak menuntut kesempurnaan, melainkan keterlibatan sadar dan bertanggung jawab.

Jika Anda seorang guru, kepala sekolah, atau pendidik, barangkali refleksi Anda akan berbeda dari tulisan ini. Dan itu wajar. Kurikulum Merdeka memang tidak dimaksudkan untuk diseragamkan, melainkan dimaknai sesuai konteks dan kebutuhan nyata pembelajaran.

FAQ Reflektif

Apakah Kurikulum Merdeka benar-benar memberi ruang kebebasan bagi guru?

Kurikulum Merdeka membuka ruang kebebasan profesional, namun kebebasan itu bukan tanpa arah. Guru tetap dituntut membuat keputusan pedagogis yang sadar, berbasis kebutuhan murid dan konteks sekolah.

Jika Platform Merdeka Mengajar tidak digunakan secara optimal, apakah itu berarti Kurikulum Merdeka gagal?

Tidak. Platform Merdeka Mengajar adalah alat bantu, bukan tolok ukur keberhasilan Kurikulum Merdeka. Makna kurikulum tetap ditentukan oleh praktik pembelajaran nyata, bukan oleh intensitas penggunaan platform.

Mengapa sebagian guru merasa terbantu, sementara sebagian lain justru merasa terbebani?

Perbedaan pengalaman ini muncul karena kesiapan, dukungan sekolah, dan budaya belajar yang berbeda. Kurikulum Merdeka tidak bekerja secara seragam, melainkan sangat bergantung pada ekosistem pendidikan di sekitarnya.

Bagaimana seharusnya guru memposisikan diri dalam relasi antara kebijakan dan praktik?

Guru tidak berada di posisi pasif. Ia adalah penerjemah kebijakan ke dalam praktik bermakna. Kesadaran profesional menjadi kunci agar kebijakan tidak berhenti sebagai administrasi.

Apakah wajar jika guru masih merasa ragu atau belum sepenuhnya “merdeka”?

Keraguan adalah bagian dari proses belajar profesional. Kurikulum Merdeka tidak menuntut guru langsung siap, melainkan terus bertumbuh melalui refleksi dan pengalaman.

Post a Comment for "Tentang Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar: Relasi Kebijakan, Praktik, dan Profesionalisme Guru"